Ketika Lady Diana meninggal, lebih dari separuh dunia tersentak kaget. Lebih dari separuhnya merasa sedih, menangis atau bahkan meratapi kepergiannya. Semua orang mengingat dan mengenang apa-apa yang telah dilakukan mendiang. Jasanya, kelembutannya, keluhuran budinya. Belum lagi habis air mata untuk “The Princes of Heart”, disusul duka lainnya yakni wafatnya Ibu Theresa, pahlawan perdamaian, ibu renta pembela kaum papa.
Dimanapun kita berada seolah sekarang ini tidak ada lagi jarak yang membatasi kita untuk saling tahu, saling kenal, dan saling berkomunikasi. Tidak ada lagi batas negara, batas lautan, batas benua.
Kita dapat merasakan kedukaan rakyat Inggris di tanah air kita sendiri, di kantor atau dalam kamar kita. Tidak ada beda waktu, beda jam, beda menit. Padahal antara Inggris dan Indonesia adalah ribuan kilometer jauhnya. Kita bisa menyaksikan usungan peti mayat pada detik yang sama. Bedanya, sebagian rakyat Inggris menyaksikannya dengan mata telanjang, kita disini menyaksikannya lewat TV. Tetapi peristiwa dan waktunya tentu sama. Oleh sebab itu menangislah orang di segala penjuru dunia pada detik-detik itu.
Saya tidak tahu teknologi apalagi yang kelak akan muncul untuk membuat manusia menjadi semakin dimanjakan. Orang bisa mengendalikan perusahaannya dengan tidak beranjak dari dalam kamar pribadi. Inikah dunia dalam genggaman? Mungkin suatu saat dua orang bisa saling bersentuhan secara fisik walaupun seorang berada di Eropa sementara seorang lainnya berada di Asia. Wallahu ‘alam.
Nilai rupiah dan nilai mata uang beberapa negara Asia anjlok. Ini semua akibat perilaku dolar Amerika yang melompat-lompat. Roda ekonomi Indonesia jadi rada-rada lesu. Proyek-proyek ditinjau ulang. Ada orang yang bangkrut, ada perusahaan yang merugi dan merumahkan ratusan bahkan ribuan pegawainya. Konon melorotnya nilai rupiah adalah akibat ulah pialang duit George Soros yang sengaja memborong uang rupiah untuk kepentingan tertentu.
Kepala saya tambah pusing. Benarkah ekonomi bumi pertiwi bisa dibuat gonjang-ganjing oleh satu orang Soros. Saya fikir saya sih wong cilik, mana bisa saya ikut-ikutan lesu. Toh saya tidak punya urusan dengan dolar, tidak punya tabungan atau deposito dalam dolar. Celengan yang ada saja dalam rupiah sering-sering dicolek. Sekali lagi toh saya mah rakyat kecil.
Tetapi rupanya dunia ini makin menciut, makin peot. Dengan satu kali sentil jari si Soros bukan hanya penggede yang kena, saya pun yang tidak masuk hitungan kena sandung pula. Coba lihat: buat mendapatkan uang lembur saja sekarang sulitnya minta ampun, kegiatan penelitian sebagian besar ditunda (ditinjau ulang), artinya tidak ada perjalanan dinas alias tidak ada uang. Waduh !
Akibat ulahnya, Soros dikecam habis-habisan oleh PM Malaysia Mahatir Muhammad. Soros dituduh sebagai biang kerok kegalauan ekonomi Asia. Diam-diam saya tercenung jangan-jangan bukan harus mengubah pola makan nasi menjadi mie instant setiap Senin dan Kamis. Tetapi mie instant dari Senin hingga Minggu. Lagi-lagi mie instantpun sekarang harganya sudah naik.
Bogor, September 1997


