Tiga orang tamu dari instansi luar datang pada saya untuk berkonsultasi dan berdiskusi tentang sistem komputer di kantor kami, database manajemen dan Sistem Informasi Geografi (GIS). Dalam percakapan tersebut inti persoalan menjadi bergeser dan bergerak pada bagaimana memperoleh dan memelihara sumberdaya manusia. Yang dimaksud tentu orang-orang yang mengoperasikan komputernya, spesialisasi mereka, apakah mereka database specialist, gis specialist, programmer atau apapun. Dan bagaimana orang-orang tadi tetap betah dan loyal bekerja di tempat mereka.
Di sela-sela percakapan saya berujar: “Kelak orang menggunakan komputer seperti layaknya orang menggunakan sebuah pena atau ballpoint”. Bedanya berlatih menggunakan pena tidak serumit berlatih mengoperasikan komputer. Untuk menggunakan sebuah komputer sangat tergantung dari pengetahuan dasar komputer yang seseorang miliki, dari hanya sekedar untuk mengetik naskah, mengolah data dengan spreadsheet, hiburan (entertainment) hingga assembler programming (pemrograman dengan bahasa tingkat rendah) dan Visual Basic. Atau bedah mesin alias hardware dan rangkaian digital.
Untuk membangun satu sistem database manajemen bukan hanya memerlukan mesin dan perangkat lunak yang handal, tetapi juga sumberdaya manusia (dulu disebut brainware). Dan manusia menempati peringkat terpenting dalam lingkaran sistem diatas. Tanpa orang, a computer is nothing. Anda boleh punya perangkat komputer dengan prosesor yang paling canggih sekalipun. Tetapi kecanggihan komputer Anda tidak punya banyak arti bila tidak ada yang mengoperasikan mesin tersebut dengan benar (baca: optimal). Komputer sangat tergantung dari penggunanya. Whose’s sitting behind.
Bukan hanya itu satu sistem manajemen database juga merupakan hasil interaksi faktor-faktor pendukung lain. Saya katakan pada rekan tadi: “Satu sistem manajemen yang baik ternyata memerlukan istri-istri yang baik, istri-istri yang setia. Istri yang rela suaminya mempunyai istri kedua. Istri yang rela suaminya berpoligami “(Lho !). Ketika Anda begitu asyik bekerja dengan sebuah komputer, maka Anda akan rela duduk berjam-jam di depan monitor, dari pagi hingga malam hari. Bila perlu hingga pagi hari lagi. (Kerja apa Singa ?) Jika seseorang berkutat dengan sebuah komputer modelnya seperti itu maka sebuah komputer adalah istri kedua bagi orang itu.Ada beda nyata antara istri pertama dan istri kedua. Bedanya adalah istri pertama sangatlah mencintai sang suami, dan si istri dapat diajaknya tidur. Sedangkan istri keduanya tidak mencintai sang suami, namun ia selalu patuh, tidak pernah menolak, tidak pula mengeluh. Perbedaan lainnya adalah istri kedua tadi tidak bisa diajak tidur, paling-paling dipakai melihat gambar orang tidur. Dan istri kedua tidak pernah dinikahi lewat catatan sipil, namun pernikahannya sah.
Dari istri pertama dilahirkan anak-anak yang sehat, manis dan cerdas. Dari istri kedua dilahirkan program-program komputer, seperangkat data, data statistik, gambar, citra, peta, maupun grafik.
Selidik punya selidik, ternyata banyak sekali suami-suami yang berpoligami model diatas. Istri kedua mereka bukan hanya komputer, bisa juga berupa peta, laporan, alat-alat laboratium atau apa saja. Eh, bisa juga burung perkutut dan ayam bangkok. Paling tidak, itulah yang saya lihat.
Untuk istri pertamaku: Istriku, maafkanlah aku. Bagaimanapun aku sangat mencintaimu. Dan tidak akan pernah berhenti mencintaimu.
Untuk istri keduaku: Maafkanlah aku, meskipun aku sangat mencintaimu aku tidak akan pernah bisa menyentuhmu dengan sentuhan seperti yang aku lakukan terhadap istriku yang pertama. Yakni sentuhan dengan getaran sukma yang melambung, kasih sayang dan kesejukan laksana mata air gunung Salak yang bening dan mengalir tiada henti.
The life’s so complicated. Bisakah perkawinan ini terus kupertahankan !?
Bogor, April 1997


