Saya tidah tahu lagi apa yang harus saya katakan. Tapi inilah apa-apa yang saya lihat di jalan. Di sana ada warna warna: hijau, kuning, dan merah. Itulah warna-warna dominan. Jika Anda menyukai warna-warna tersebut, kenakanlah pada tempat dan waktu yang tepat. Jika tidak, maka akibatnya berabe ! Berabe seberabe-berabenya.
Jika Anda ingin melihat arak-arakan kendaraan bermotor, sekaranglah saatnya. Di sana ada arak-arakan dengan fanatisme dan kombinasi atraksi yang membahayakan dan mencemaskan. Dengan yel-yel. Kendaraan bak terbuka yang penuh sesak, atau sepeda motor yang mendentum-dentum dan berlari dengan kecepatan tinggi dan zig-zag. Tidak ada yang lebih seru lagi dari saat ini. Tidak perlu nonton film Rambo, sekarang banyak Rambo-Rambo di jalanan dengan ikat kepala dan wajah coreng moreng. Dari Rambo Balita sampai Rambo yang sudah aki-aki.
Cobalah dengar apa yang mereka teriakkan. Yel-yel itu! Ada yang lucu, ada yang aneh, ada yang jorok, ada juga yang memang sudah semestinya diteriakkan. Namanya juga kampanye. Yang lucu pasti bikin kita ngakak atau paling tidak mesem. Yang aneh bisa bikin kita mikir. Yang jorok, telinga kita jadi gatal.
Coba lihat pula yang meneriakkan yel-yel tadi. Ada Balita. Ada pula kakek-kakek yang bertingkah seperti Balita. Ada pemuda yang rambutnya dicat dan kepalanya gedek-gedek!. Ada juga mojang lajang berhidung bangir dan bikin dan gemas. Ada juga mamih-mamih bergaya Abege. Atau pak menteri, ibu menteri, bapak dan ibu pejabat yang berteriak sambil pinggul bergoyang. Salah? Tentu saja tidak. Namanya juga kampanye.
Siapa sih mereka? Mereka itu penggembera, supporter. Itu sebabnya kalau lihat kampanye model sekarang jangan pakai mata telanjang, tapi pakailah matahati. Jangan lihat warna bajunya. Karena kalau hari ini bajunya hijau, bisa jadi besok bajunya kuning, lusa bajunya merah. Kok bisa? Bisa saja! Namanya juga kampanye. Yang ditonton kan Evie Tamala, atau Camelia Malik atawa Ike Nurjanah yang rada-rada sedap dipandang. Yang didengarpun musiknya, lagunya. Bukan pidatonya yang bikin puyeng, apalagi yang diomongkan cuma itu-itu doang! Kalau yang dipanggungkan artis, tidak usah pakai kampanye juga orang-orang pasti mbludak, apalagi kalau gratis.
Terus? Naik mobil kan biasa, apalagi naik sepeda motor. Tapi naik mobil bak terbuka, berjejal seperti ikan teri? Naik sepeda motor tanpa helm, bertiga, bila perlu berempat atau berlima. Itu lain lagi. Apalagi sambil teriak-teriak dengan bebas. Kebut-kebutannya itu yang paling sedap. Rasanya awak jadi gagah dan ngetop. Kapan lagi !? Kan cuma lima tahun sekali.
Mari kita dengar apa yang mereka teriakkan. Dengarlah dengan tenang, jangan terburu-buru, dengar pula dengan matahati, bila mungkin dengan indera keenam. Janganlah buru-buru mencibir (karena kalau keseringan bibir bisa dower), jangan pula cepat bersorak (karena kalau keseringan kerongkongan bisa pecah). Mereka bicara pembangunan, pendidikan, lapangan kerja. Syukur alhamdulillah. Siapa sih yang tidak suka negara ini jadi maju, gemah ripah loh jinawi, ijo royo-royo. Cacing saja tambah senang kalau tanah jadi subur. Siapa sih yang tidak ingin pintar, terdidik, educated. Siapa sih yang sudi jadi penganggur.
Kedengarannya pidato itu berbunyi begitu. Berbunyi hal-hal yang memang sudah seharusnya demikian. Tidak usah diomong, tidak usah pakai yal-yel. Kita harus maju, kita harus terdidik, kita harus bekerja. Memang harus demikian Pak! Kalau tidak begitu kita mau jadi apa? Apa mau jadi seekor unta, diamnya di Mekah atau Madinah, tapi seumur-umur belom pernah naik haji.
Kalau negeri ini maju. Bukankah seharusnya begitu? Kenapa merasa sangat berjasa? Pembangunan merata, juga memang harus begitu. Kita kan merdeka sudah lebih setengah abad. Semua orang bekerja. Bekerja keras. Artinya semua orang mendukung pembangunan ini. Siapa sudi pembangunan terhenti. Siapa orang yang sudi berumah gedek terus-menerus dengan atap yang selalu bocor bila musim penghujan tiba. Mereka juga ingin membangun, paling tidak untuk keluarganya. Untuk anak dan istrinya. Lha kalau negara ini tidak maju-maju, pembangunannya macet, kerja pemerintah apa? Rapat? Rapat-rapat! (Kayak iklan jamu aja)
Tetapi apakah benar yang mereka teriakkan itu sesuatu yang tulus, jujur, dari hati nurani? Benarkah yang mereka teriakkan itu untuk negara, untuk bangsa? Untuk kelangsungan pembangunan. Bukan untuk kelangsungan jabatan. Saya yakin dan percaya bahwa mereka berkata benar. Namun saya yakin pula banyak diantara mereka yang berkata tidak benar, tidak jujur, culas, dan zalim. Naudzubillah summa naudzubullah.
Saya awam soal politik. Katanya politik itu berasal dari dua kata poly dan tik. Poly artinya banyak, sedangkan tik artinya akal. Jadi orang yang berpolitik adalah orang yang banyak akal. Kejujuran tidaklah tercermin dalam konteks ini. Konon dalam berpolitik kata jujur jadi tabu nilainya. Saya harap itu bukanlah definisi yang benar.
Sebagai orang awam saya sering melihat dalam masa kampanye orang-orang bodoh (lemah) dimanfaatkan oleh orang yang lebih kuat dalam pengerahan masa. Dengan cara memberi uang tips tertentu agar ikut dalam masa/rombongan si pemberi uang. Syukur kalau diberi uang, diberi kaos oblong dan bendera, tapi kalau ditekan.
Tetapi orang pintarpun bisa dibohongi. Namanya juga politik. Anak-anak itu kan ikut ngabring karena dibayar, dapat upah. Siapa pun yang membayar tidak soal. Yang penting ada kepengnya. Lumayan. Apapun yang diteriakkan bukan masalah. Kalau sudah begitu tidak heran satu orang penggembira punya tiga buah kaos dengan warna yang berbeda.
Menyelamatkan negara dengan memelihara kelangsungan pembangunan menjadi wajib hukumnya, bila lawannya merusak negara dan menghancurkan pembangunan. Menyelamatkan negara dan mensyiarkan kebaikan dengan menegakkan Al-Qur’an adalah jihad sebutannya. Tetapi bila berpura-pura menyelamatkan pembangunan, untuk menyelamatkan jabatan, itu sih zalim namanya. Apalagi pakai ayat-ayat Al-Qur’an untuk mempermanis jalan. Hanya Allah yang Maha Tahu.
Waktu pulang ngantor, saya menyusup ke barisan arak-arakan sebuah kampanye. Suara sepeda motor menderu-deru, asapnya bikin sesak dan polusi. Rasanya tidak salah kalau cari kawan di tengah pasukan konvoi tadi.
“Kamu senang ikut kampanye ini” tanya saya pada salah seorang penggembira.
“Senang sekali Pak. Apalagi dikasih uang” jawabnya
“Terus kamu nanti nyoblos gambar ini nanti?” tanya saya
“Ah kalau itu sih urasan saya” jawabnya kalem.
Nah lho! Pintar juga kawan kita ini berpolitik. Ambil dulu duitnya, urusan nyoblos belakangan. Rupanya tidak selalu bisa dikaitkan antara jumlah masa arak-arakan dengan jumlah suara yang terjaring.
Dasar badut! Topengnya saja ketawa padahal hatinya sedih.
Hidup anu, hidup anu. Padahal yang dipilih Ani. (Ha ha..)
Satu hal lagi yang perlu dicatat. Kampanye Pemilu kali ini tidak selalu identik dengan kematangan politik (baca kegiatan politik). Apalagi pesertanya hanya anak-anak ingusan yang didandani dengan atribut partai tertentu. Mereka tidak tahu apa itu Pemilu, merekapun tidak kenal siapa yang dipilih. Mereka hanya mengenal tanda gambar. Hijau gambarnya bintang, kuning gambarnya pohon beringin, merah gambarnya kepala banteng. Coba dengarkan teriakan anak saya:
“Idup Itang, Idup Okay, Idup Anteng”
Yang terakhir tolong diingat. Jangan salahkan mereka yang ikut arak-arakan. Jangan salahkan mereka yang teriak-teriak di jalanan. Bisa jadi mereka memang meneriakkan ketertekanan dan uneg-uneg. Melepaskan kekesalan yang sungguh-sungguh mereka derita selama ini. Bukan sandiwara. Bukan Basa-basi. Tapi jangan pula membenarkan tindakan mereka yang keliru.
Sisi lainnya adalah ketika sebagian orang sedang berarak-arakan, yang lainnya berjejer rapi di tepi jalan, sambil menikmati pemandangan langka itu. Mengacungkan tangan dengan isyarat tertentu atau bertepuk tangan memberi sambutan. Rupanya kampanyepun bisa jadi hiburan.
Bogor, Mei 1997


