Anda tahu jengkol atau pete? Baunya khas. Banyak orang yang tidak menyukainya, bukan hanya karena baunya tetapi juga rasanya yang begitu-begitu saja. Bagi yang tidak menyukainya mencium baunya saja sudah bikin keki, apalagi bila mencium bau limbah hasil olahannya di kamar mandi yang nilai baunya meningkat menjadi dua kali lipat. Tapi jangan mengira tidak ada yang suka dua benda bau itu. Kalau sudah makan dengan lalap pete dan ikan asin, apalagi ditambah sayur asam jadi lupa segalanya. Mertua lewatpun jadi tidak nampak.
Seperti halnya jengkol dan pete, orang bisa punya ketergantungan pada minuman keras dan narkotika dan sejenisnya. Bedanya saya belum pernah dengar ada orang teler, fly karena pete. Tidak ada pula orang frustrasi lantas menenggak jengkol sekeranjang. Yang ada adalah jengkoleun, kalau pipis terasa sakit karena terlalu banyak menyantap sate jengkol dan semur jengkol.
Tidak ada ketergantungan orang terhadap pete maupun jengkol. Tetapi tidak terbilang banyaknya orang menyembah alkohol dan menjadi budak narkotika, ganja, putauw, ecstasy dan konco-konconya.
Benda lainnya adalah rokok. Banyak orang begitu tergantung pada rokok. Konon rokok dapat menurunkan ketegangan, memberi kesan jantan, macho, atau mendongkel nilai PEDE. Padahal jelas-jelas dari segi kesehatan nikotin dan tar sangat membahayakan. Untuk seorang perokok berat kesehatan menjadi nomor dua. Bagi orang yang bukan perokok, rokok adalah barang aneh yang tidak pernah bisa dinikmati dari sisi manapun.
Seorang perokok tulen, tentu tidak asal isap semua jenis dan merek rokok. Mereka menghisap jenis dan merek yang cocok dengan selera mereka. Fanatisme pun bisa menyembul didalamnya. Syahdan, orang Jawa Timur hanya akan merokok merek-merek yang diproduksi disana (Jawa Timur). Jika menyangkut rasa dan selera, maka merek menjadi amat penting.
Katakanlah, seorang pencinta Wismilak (hijau) tidak akan menghisap Ji Sam Soe (kuning) atau Gudang Garam (merah). Demikian pula sebaliknya. Ini soal selera, dan selera tidak dapat diperdebatkan. Anda boleh menawari mereka, tetapi mereka hanya memilih apa yang menjadi idola mereka. Seorang perokok, jika ia mau menghisap segala jenis rokok, maka ia dapat dikatagorikan bukan perokok tulen.
Seorang perokok bisa saja pindah dari satu merek ke merek lain, bila jelas-jelas rokok yang dia pilih dulu sudah tidak cocok lagi dengan seleranya (baca aspirasi) atau malah bikin batuk. Tetapi boleh jadi si perokok tadi merasa rokok yang dia pilih sekarang memberikan rasa yang lebih menjanjikan.
Dalam sebuah kampanye Pemilu, jika boleh diibaratkan adalah seperti orang menawari rokok di atas. Seorang Jurkam adalah penjaja rokok merek tertentu, boleh saja orang itu menawarkan barangnya. Soal dibeli atau tidak terserah. Seorang penjaja rokok hanya berhak menawarkan, tidak berhak memaksa apalagi mengintimidasi. Sementara si pembeli berhak menentukan pilihannya (baca menggunakan hak pilih).
Jika kemudian ia tidak memilih satupun yang ditawarkan, itupun berarti ia telah menentukan pilihan yakni tidak memilih, blank, abstain alias golput. Tidak memilih adalah hak. Jangan paksa dia jika azas yang dipakai adalah bebas.
Lantas mengapa masih ada sementara orang yang meributkan jika ada mahasiswa atau kelompok tertentu yang golput. Menurut saya orang tersebut adalah comel, mengurusi urusan yang bukan bagiannya, tidak tahu bagaimana menghargai hak orang lain. Kurang kerjaan ! (Rasain). Kawan-kawan kita yang golput adalah orang-orang yang punya sikap, punya pendirian. Memilih adalah pendirian. Tidak memilih adalah juga pendirian. Yakin akan adanya sesuatu adalah keyakinan. Tidak yakin akan adanya sesuatu juga keyakinan. Tolong jangan usik apa-apa yang mereka yakini.
Ketika seorang jurkam menjajakan dagangannya, komoditi yang mereka tawarkan bisa jengkol atau bisa pete. Bau, tetapi tetap banyak yang suka. Orang bisa ketagihan tetapi tidak ada ketergantungan dan tidak bikin tenggeng. Bisa juga yang ditawarkan adalah miras dan narkotika. Mula-mula menjanjikan, lantas memabukkan dan ketagihan. Berikutnya adalah kehampaan dan frustrasi. Orang merasa harus berlari, tetapi tetap harus kembali.
Komoditi lainnya adalah rokok. Pada komoditi ini ada orang yang tertarik lantaran merek dan reputasinya. Ada yang fanatik memilih lantaran rasanya. Ada pula yang tertarik lantaran ‘bungkusnya‘ yang meriah, penuh warna. Dan yang terakhir adalah yang tidak tertarik pada satupun, mereka bukan perokok !
Kampanye tentu menjajakan komoditi yang tidak terbatas. Bukan hanya jengkol dan pete, bukan pula hanya rokok. Yang datang dan dengar kan bukan hanya perokok dan peminum, ada juga yang anti rokok dan anti minuman keras. Banyak ibu-ibu dan bapak yang tidak merokok apalagi nenggak cap jenggot.
Komoditi yang ditawarkan bisa sangat beragamk kualitasnya, dari yang rendah hingga kualitas ekspor. Sebagai pembeli Anda harus meneliti secara seksama sebelum membelinya. Salah-salah bisa dapat barang yang cacat. Kadang-kadang kita harus berputar-putar dahulu ke setiap toko untuk membandingkan harga dan merek barang yang akan kita beli. Anda harus tanya jaminan purna jualnya (garansi). Jangan bayar dulu sebelum Anda yakin betul bahwa barang yang Anda pilih memang sudah benar dan bagus.
Susah juga ya jadi pembeli !?
Tetapi bagaimanapun saya ucapkan: Selamat berbelanja !
Bogor, April/Mei 1997


