Hanya kaum sufi yang menganut faham bahwa hidup tidak boleh kaya. Mereka memilih berhenti makan sebelum kenyang, dan tidak makan sebelum merasa lapar. Konon nabi Isa a.s. membasahi kasur tempat tidurnya sebelum tidur, agar beliau tidak terlelap dan tebuai di tempat tidur.
Pada dasarnya agama manapun tidak ada yang melarang umatnya untuk menjadi kaya. Yang ada adalah dilarang menjadi budak kekayaan dan dikuasai harta.
Bila seorang miskin, kemudian menjadi kaya karena usahanya yang sangat keras. Maka tidaklah sukar baginya untuk menyesuaikan diri. Mungkin dia akan mendandani rumahnya, menukar pakaiannya, membeli perabotan baru atau apapun. Bila seorang kaya tiba-tiba jatuh miskin, bangkrut. Maka sering orang semacam itu menjadi shock, linglung dan stress.
Jatuh dari tangga memang tidak lebih enak dibanding naik tangga tinggi-tinggi, meskipun harus terengah-engah.
Kaya adalah cita-cita semua orang. Dengan kekayaan kita menganggap banyak persoalan dapat diselesaikan dengan relatif mudah. Bila kita sakit, tinggal angkat telpon dan panggil dokter. Tidak usah susah-susah antri di Puskesmas dan urus soal Askes. Jika lapar, bisa pula kita pesan makanan yang akan langsung diantar ke rumah dalam keadaan hangat. Kita bisa sumbang orang miskin, bangun mesjid, dan seterusnya. Paling tidak itulah bayangan orang yang tidak kaya.
Dalam skala normal tentu orang berusaha menjadi kaya, bukan berusaha menjadi miskin. Bahkan dalam ukuran keserakahan orang yang sudah kaya lebih keras kerjanya untuk menjadi tambah kaya, ketimbang orang miskin yang ingin menjadi kaya.
Sebuah hadist Nabi Muhammad Saw. menyiratkan:
Kefakiran mendekatkan seseorang pada kekufuran.
Hadist tersebut mengisyaratkan betapa lebih berisiko menjadi orang papa dalam hal aqidah. Bagaimana tidak, ketika orang begitu sulitnya mencari nafkah meskipun hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari, sementara ada sekelompok orang yang membuang atau menghamburkan uang dengan begitu mudahnya (secara mencolok pula). Bila keadaan semacam itu terjadi di masyarakat kita, maka beradalah si miskin pada tepi jurang kekufuran. Lebih-lebih ketika dia merasa:“Betapa tidak adilnya Tuhan memperlakukan saya”. Itulah isyarat dari hadist tersebut. Betapa sukarnya mempertahankan dan memelihara nilai keimanan, padahal baru dari satu sisi.
Jika kita melihat kekayaan hanya dari sisi enaknya, dari segi keuntungannya, apakah seorang kaya tidak mempunyai resiko terjerembab ke lubang kekafiran ? Tentu saja ada. Kaya secara filosofis adalah alat, bukanlah tujuan. Tujuan hakiki hidup kita adalah kebahagiaan dunya wal akhirah. Kekayaan sebagai suatu alat sangat ditentukan oleh pengguna alat tersebut. Kekayaan laksana sebuah pisau bisa untuk mengupas buah dan bisa pula untuk membunuh orang. Uang sebagai sebuah alat tukar bisa dipakai untuk melangsungkan pernikahan, tetapi bisa pula dipakai untuk membayar wanita pelacur dan melegalisasi pelacuran.
Di banyak tempat bahkan uang dapat dipakai untuk membeli keadilan, mengurangi lamanya seseorang dari tahanan, atau bahkan mengeluarkan seorang bandit dari penjara. Dari sisi ini kekayaan bukan hanya mendekatkan orang kepada kekufuran, tetapi sekaligus dapat menjadi penebar kezaliman dan bencana.
Kaya memanglah enak apalagi pada zaman ini, semua menjadi serba mudah. Dengan pakaian necis, sepatu mengkilat, jam tangan bermerk, farfum semerbak dan telepon genggam di tangan. Setiap saat dapat dihubungi dan dapat menghubungi seseorang. Seolah dunia tanpa jarak.
Tetapi di mata Tuhan bukanlah soal kaya dan miskin. Meteran yang dipakai adalah ketakwaan. Miskin, juga takwa adalah hebat. Tetapi sudah kaya, saleh dan takwa pula adalah lebih hebat. Kaya lantas jadi sombong, kita bisa fahami. Sudah miskin, tambah pula sombong. Naudzubillah min jalik.
Illahi anta maqsudi ridlaka matlubi.
Ya Allah jadikanlah kami hamba yang senantiasa takwa kepadamu. Engkaulah yang kumaksud dan ridlamu yang aku cari. Ya Allah aku tidak meminta panjang umur, tetapi aku meminta panjang takwa. Biarlah aku pendek umur tetapi baik akhlak dan husnul khatimah. Daripada panjang umur tetapi buruk laku dan perangai. Bila Engkau mengabulkan do’aku berilah aku umur panjang dan senantiasa takwa padaMu. Cabutlah nyawaku dalam keadaan husnul khatimah.
Aku tahu aku bukanlah orang yang pantas mendapatkan jannah, tetapi aku sangatlah tidak kuat berada dilain tempat selain surgaMu.
Bogor, Oktober 1997



Sangat bagus ulasan yang ditulis, betapa bahagianya bila si kaya harta, dia juga memiliki kaya hati. Istilah kaya sangat relatif. Seperti kaum sufi yang dimaksud…mungkin dia sudah merasa kaya bukan karena memiliki harta atau bentuk materi yang lain lebih banyak. Mereka merasa kaya dengan bertaqwa kepada Allah Yang Memiliki hidup ini.
Aef…..teruslah bersyiar…Semoga Allah akan selalu memberi rahmat dan baroqah kepada Aef dan keluarga. Amin
Terima kasih Ineu (begitu saya memanggil Nina).
Tulisan ini saya buat 11 tahun lalu, tapi komentar Ineu menyegarkan ingatan saya tentang apa yang saya tulis.
Betul, kaya menjadi relatif bagi setiap orang.
Untuk orang yang yang kualitas taqwanya sangat baik, semakin tinggi tingkat ketaqwaan yang dicapai, semakin dia merasa menjadi kaya. Dan itulah hakekat kekayaan bagi orang tersebut.
Dengan membaca tulisan ini, sayapun ikut tersadarkan kembali tentang makna kaya dan taqwa.
Thanks ya Ineu ..