Sebetulnya sih saya kehilangan moment, kalo bicara soal barongsai. Abis salah niat sih. Soalnya saya bukan mau liat barongsainya, saya mau ngamati orang-orang yang berduyun-duyun nonton barongsai. Entah darimana itu orang datangnya.
Ujubone, bukan main ramenya di seputaran Jl. Suryakencana Bogor pada saat pawai barongsai mau digelar, jam 3 sore aja orang udah berjubel-jubel di seputar kelenteng Suryakencana (Plasa Pasar Bogor).
Yang bikin saya heran, yang nonton banyak sekali ibu-ibu (dan perempuan muda). Tidak kurang sang ibu sambil mengajak anak-anaknya. Ada juga lho yang sambil menyusui .. Eh bahkan ada ibu hamil juga. Heran deh!
Yang bikin tambah heran, si ibu, si anak, si muda dan si tua itu adalah orang kita (maksudku bukan orang Tonghoa). Padahal barongsai hajatannya orang orang Tionghoa. Tentu mereka juga ada, tapi tidak sebanyak orang kita (pribumi).
Entah, karena peristiwa itu menarik karena diadakan setahun sekali. Atau ada juga orang diam-diam bernostalgia liat barongsai, sebab jaman ORBA kehadiran sang barongsai sempat dikekang alias tidak boleh dipertontonkan.
Karena sekarang barongsai bisa keluar dengan leluasa, maka suasananya jadi sangat meriah. Sang ‘naga’ pun bisa melompat dan meliuk-liuk lebih lincah (karena bebas kale..). Bukan hanya itu ada juga kesenian Sunda yang dipergelarkan untuk mendampingi sang naga. Tidak kurang selain penarinya mojang bogor yang imut-imut ada juga kakek-nenek yang jadi penarinya. Saya sempat ‘jepret’ ekspresi sang nenek sebelum ikut arak-arakan.




